Peranan Penelitian dalam Pengembangan Ilmu Komunikasi
A. Pemahaman Ke-arah Pengertian Penelitian
1. Motivasi Melakukan Penelitian
Hakikat penelitian dapat dipahami dengan mempelajari aspek motivasi yang mendorong manusia untuk melakukan penelitian. Setiap orang mempunyai motivasi yang berbeda, diantaranya dipengaruhi oleh tujuan dan profesi masing-masing. Dosen, mahasiswa, manajer, konsultan bisnis, masing-masing mempunyai motivasi dan tujuan tertentu dalam melakukan penelitian. Motivasi penelitian secara umum pada dasarnya sama yaitu bahwa penelitian merupakan refleksi dari rasa keingintahuan manusia untuk mengetahui sesuatu (human curiosity). Karena dorongan ingin tahu tersebut, semenjak masa kanak-kanak manusia cenderung mempertanyakan berbagai hal yang belum diketahui dan belum dipahaminya. Dorongan dan kecenderungan tersebut, mengisyaratkan adanya keinginan manusia untuk lebih memahami dunia dimana ia hidup, baik “dunia alam maupun dunia sosial”.[1]
Dorongan dan kecenderungan tadi dipermudah oleh kemampuan mengabstraksi dan berbahasa yang dipunyai oleh manusia, memungkinkan manusia untuk berkomunikasi, belajar dan menyimpan perbendaharaan pengetahuannya dalam sejumlah lambang, symbol atau konsep; semuanya itu ikut mempermudah tersalurnya dorongan ingin tahu manusia sehingga memungkinkan berkembangnya perbendaharaan pengetahuan manusia dari waktu ke waktu, baik mengenai dunia alam maupun dunia sosial.[2] Hal tersebut ditandai dengan semakin banyaknya konsep atau pengertian yang diketahui dan dipahami seseorang.
Rasa keingintahuan manusia itu diperoleh dengan proses bertanya dan menjawab. Dalam proses bertanya dan menjawab itu ada aktivitas berfikir. Berpikir adalah bertanya, bertanya adalah mencari jawaban. Mencari jawaban adalah sama dengan mencari kebenaran. Proses bertanya dan menjawab inilah sebenarnya inti penelitian itu.[3] Dari proses bertanya dan menjawab kemudian diperoleh pengetahuan yang benar oleh manusia. Dengan demikian, penelitian pada hakikatnya bertujuan untuk memperoleh pengetahuan tentang sesuatu yang dianggap benar.
2. Cara Manusia Memperoleh Pengetahuan
Sebagaimana terlihat dari pembahasan di atas, kegiatan penelitian ditujukan untuk memperoleh pengetahuan. Namun demikian, dalam sejarah panjang pencarian dan penemuan kebenaran dan pengetahuan, manusia telah menempuh berbagai jalan dan cara. Cara yang pernah ditempuh manusia untuk mengetahui dan menjelaskan tentang sesuatu adalah:
a. Pertama dengan metode keteguhan (method of tenacity). Dengan cara ini orang menerima suatu kebenaran karena merasa yakin akan kebenarannya. Unsur keyakinan berperan dalam metode ini. Bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah, dan bukan berasal dari monyet, diterima sebagai kebenaran karena keyakinan agama. Metode ini berpegang teguh pada suatu pendapat yang sudah diyakini sejak lama, bahwa sesuatu itu benar.
b. Kedua, dengan metode otoritas (method of authority). Sesuatu diterima sebagai kebenaran karena sumbernya mempunyai otoritas untuk itu. Bahwa alam semesta adalah ciptaan Allah diterima sebagai kebenaran karena sumbernya adalah al-Quran. Pernyataan dari seorang tokoh tertentu juga diterima sebagai kebenaran karena ia mempunyai keahlian di bidang itu. Jadi kebenaran dikembalikan kepada pernyataan orang lain yang dianggap ahli dan menguasai permasalahan tersebut.
c. Ketiga, dengan intuisi atau a priori (method of intuition). Proses penemuan kebenaran melalui intuisi atau ilham sangat mungkin apabila hati manusia bersih dan pikiran jernih seperti waktu melaksanakan ritus keagamaan dan semedi. Intuisi dapat berupa sebuah keyakinan terhadap suatu pilihan yang secara akal sehat dapat dipercaya atau tidak dapat dipercaya. Intuisi dalam pandangan para filosof merupakan “suara Tuhan” yang masuk melalui ruh dan menghunjam ke dalam kalbu.
d. Keempat secara kebetulan. Kebenaran juga dapat diperoleh secara kebetulan. Walaupun demikian, kebenaran yang ditemukan sering sangat bermanfaat. Konon, penemuan pil kina (penyembuh penyakit malaria) ditemukan ketika secara tidak sengaja seseorang yang sedang mengalami panas suhu badannya terjatuh di sebuah sungai dan secara tidak sengaja pula ia meminum air sungai itu. Oleh karena di muara sungai itu tumbang sebatang pohon yang getahnya ikut larut ke air sungai tersebut dan diketahui pohon tersebut adalah pohon kina yang memiliki toksin untuk penyakit malaria. Cerita lain mengisahkan ada seorang santri menghanyutkan usus ayam milik kiainya ketika ia diperintahkan untuk mencucinya di sungai. Karena ketakutan, ia mengganti usus tersebut dengan cacing. Santri lain yang kebetulan memakan usus cacing tersebut justru dapat sembuh dari penyakit tifus yang selama ini dideritanya. Selain itu, suaranya pun semakin nyaring. Ilmu pengetahuan mutakhir membuktikan bahwa cacing mengandung unsur-unsur yang dapat membunuh virus penyebab tifus dan juga dapat dijadikan bahan untuk kosmetika.
e. Kelima dengan usaha coba-coba (trial and error). Pengethauan dengan cara ini diperoleh melalui pengalaman langsung. Sesuatu yang dianggap benar diperoleh sebagai hasil dari serangkaian percobaan yang tidak sistematis. Mula-mula dicoba, hasilnya salah, dicoba lagi, salah lagi, dicoba lagi sampai akhirnya ditemukan yang benar. Ibu-ibu dalam memasak sering melakukan usaha coba-coba untuk mendapatkan masakan sebagaimana diinginkan.
f. Keenam melalui akal sehat (common sense). Akal sehat merupakan serangkaian konsep yang digunakan untuk menyimpulkan hal-hal yang benar. Cara common sense ini sering sangat berguna namun terkadang menyesatkan. Contoh yang menguntungkan misalnya metode analogi dalam proses penetapan hukum sering hanya menggunakan akal sehat. Sapi dan kerbau diqiyaskan dengan unta. Contoh menyesatkan sekitar abad ke-19 para pendidik umumnya berkeyakinan bahwa hukuman merupakan alat utama dalam pendidikan. Kebenaran yang telah diyakini itu terbukti menyesatkan setelah diadakan penelitian. Penelitian Hurlock menunjukkan bahwa reward atau hadiah menghasilkan peningkatan yang lebih besar dalam proses belajar dibanding hukuman atau sanksi.[4]
g. Ketujuh melalui metode ilmiah (scientific method). Metode ini dilakukan melalui proses deduksi dan induksi. Permasalahan ditemukan di dalam dunia empiris dan jawabannya juga dicari di dalam dunia empiris melalui proses deduksi dan induksi yang dilakukan secara sistematis. Moh. Nazir menyebutkan enam kriteria pada metode ini, yaitu (1) berdasarkan fakta, (2) bebas dari prasangka, (3) menggunakan prinsip-prinsip analisis, (4) menggunakan hipotesis, (5) menggunakan ukuran obyektif, dan (6) menggunakan teknik kuantitatif.[5] Dengan karakteristik seperti ini ada yang menyebut metode ilmiah dengan metode positivistic. Namun mengamati perkembangan decade terakhir, di samping bersifat positivistic juga semakin popular metode naturalistic, dan rasionalistik.
Terhadap ke-tujuh metode mencari dan menemukan kebenaran di atas dapat dikategorikan bahwa cara pertama sampai dengan nomor keenam merupakan cara atau metode non-ilmiah. Sedangkan cara terakhir memenuhi kriteria pendekatan ilmiah.
B. Peranan Penelitian
Penelitian atau penggunaan metode ilmiah secara terancang dan sistematis, atau kegiatan penelaahan secara ilmiah, tidak dapat dipisahkan dengan pertumbuhan ilmu pengetahuan, baik bagi ilmu-ilmu kealaman (natural sciences) maupun bagi ilmu-ilmu sosial (social siences). Dikatakan demikian karena ilmu pengetahuan sebagai produk (a body of organized and verified knowledge), sebagaimana dikatakan Harton and Hunt, jelas merupakanhasil penelahaan dan investigasi ilmiah. Artinya pertumbuhan ilmu pengetahuan dari awal mulanya hingga sekarang ini, adalah berkat andil kegiatan penelitian yang selama ini dilakukan oleh para ilmuwan ; penelitian merupakan metode andalan para ilmuwan yang selama ini digunakan untuk menyingkap “rahasia dunia alam dan rahasia dunia sosial”.
Hal tersebut menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan, baik mengenai alam maupun sosial berkepentingan dengan penemuan pengetahuan-pengetahuan baru yang kebenarannya teruji secara ilmiah, wujudnya berupa teori atau generalisasi yang ditemukan melalui hasil penelitian. oleh karena itu penelitian merupakan pisau bedah untuk menyingkap kenyataan alam dan kenyataan sosial yang belum tersingkap.[6]
Dalam dunia sosial penggunaan metode ilmiah secara luas dalam menelaah gejala sosial baru berkembang dalam abad ke-20 ini. Mengingat masih mudanya usia penelahaan ilmiah terhadap dunia sosial dan gejala sosial itu sendiri jauh lebih kompleks dibandingkan dengangejala alam, prestasi penemuannya masih belum disebandingkan dengan apa yang dicapai oleh ilmu-ilmu kealaman.
Apapun yang telah dicapai dan ditemukan hingga sekarang baik dalam dunia alam maupun sosial, yang jelas masih tersisa demikian banyak masalah dan gejala yang belum tersingkap. Obyek penelitian masih terbentang luas, bahkan dari setiap penelitian , akan memunculkan satu atau beberapa masalah baru yang memerlukan penelitian. Dengan begitu, bangunan pengetahuan dan akumulasi pengetahuan ilmiah akan tetap menjadi tantangan dan kebutuhan untuk ditumbuhkan dan dikembangkan, jalannya adalah melalui penelitian.
Teori serta hasil-hasil penelitian mengenai sesuatu masalah dapat menjadi landasan untuk memasalahkan atau mempertanyakan sustu masalah baru, dan begitu seterusnya. Bila demikian halnya maka pertumbuhan ilmu pengetahuan akan berkembang laksana spiral, dimana penemuan-penemuan baru bertolak dari dan utnuk memekarkan atau memperkaya penemuan sebelumnya.
Peranan Penelitian dalam Praktik Komunikasi
Sebagai bagian dari ilmu-ilmu sosial, ilmu komunikasi juga akan berkembang melalui penelitian. Penelitian memegang peranan penting dalam praktik komunikasi. Proses komunikasi ditujukan untuk menciptakan komunikasi yang efektif. Dengan demikian segala bidang komunikasi , baik itu hubungan masyarakat (public relations), periklanan (advertising) , penyiaran (broadcasting), jurnalistik dan lainnya dituntut untuk menciptakan komunikasi yang efektif agar tercapai tujuan yang diharapkan. Komunikasi yang efektif mensyaratkan adanya pertukaran informasi (sharing of information) dan kesamaan makna (in tune) antara komunikator dan komunikan.
Banyak pakar memberikan batasan komunikasi efektif. Tubbs and Moss (2000:9-13) dalam bukunya Human Communication memberikan kriteria komunikasi efektif, yaitu bila terjadi pengertian, menimbulkan kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang semakin baik, dan perubahan perilaku. Bila dalam proses komunikasi khalayak tidak mengerti apa yang disampaikan komunikator, atau terjadi kerenggangan hubungan antara komunikator dengan khalayak maka terjadi kegagalan komunikasi atau komunikasinya bukan komunikasi efektif. Jadi komunikasi efektif dapat terjadi manakala ada kesamaan kerangka berfikir (frame of reference) dan bidang pengalaman atau (field of experience) antara komunikator dengan komunikan.[7]
Maka dari itu, untuk menciptakan komunikasi yang efektif maka harus dilakukan persiapan-persiapan secara matang terhadap seluruh komponen proses komunikasi: siapa komunikatornya, pesan apa yang akan disampaikan, apa medianya, sasarannya siapa, bagaimana efeknya, umpan balik, bahkan kemungkinan noise yang terjadi.
Disinilah posisi riset. Upaya-upaya menyiapkan komponen komunikasi diatas harus didasari atas data empiric yang berisi deskripsi detail tentang karakteristik masing-masing komponen. Data empiris ini tentunya hanya didapat melalui kegiatan riset, sehingga keputusan yang diambil akan mencerminkan realitas yang akan dihadapi. Misalnya : komunikator yang kredible dimata pendengar itu yang bagaimana, informasi apa yang dibutuhkan khalayak, bagaimana umpan balik khalayak terhadap pesan yang disampaikan oleh PR[8], apakah strategi kreatif sebuah iklan sesuai dengan target sasaran, bagaimana profil pembaca suatu suratkabar yang akan mempengaruhi jenis informasi yang sesuai dengan pembaca. Dan lain-lain.
Selain itu, sebagai ilmuwan ataupun praktisi komunikasi dituntut selalu mengembangkan khazanah ilmu kita melalui riset. Karena sebenarnya ilmu itu bersifat tentative (dapat didebat), perlu pemikiran baru demi pengembangan dan untuk kemaslahatan ummat. Pada dasarnya riset itu dilakukan untuk menemukan, membuktikan dan mengembangkan. Menemukan hal atau teori baru yang sebelumnya tidak ada, membuktikan sesutau dan mengembangkan teori atau hal baru yang sudah ada.
Secara garis besar manfaat riset dikelompokkan kedalam empat kelompok besar :
1. Manfaat teoritis atau akademik
Sebuah riset komunikasi diharapkan bermanfaat bagi pengembangan keilmuan melalui upaya mengkaji, menerapkan, menguji, menjelaskan atau membentuk teori, konsep maupun hipotesis tertentu. Disinilah peneliti bisa memulai risetnya dengan menanyakan apakah sebuah teori masih layak digunakan untuk menjawab fenomena atau periset mangamati fenomena yang akhirnya membentuk teori baru. Mislanya teori peluru yang disampaikan oleh Wilbur Schramm yang menganggap pengaruh media terhadap khalayak sangat kuat ( khalayak dianggap pasif). Dikritik oleh Elihu Katz dan Paul Lazarsfeld (1950) yang mengemukakan teori baru tentang aliran komunikasi dua tahap (two step flow communication) atau personal influences (pengaruh pengaruh personal yang menganggap bahwa pengaruh media itu terbatas, dan sebaliknya khalayak aktif mencari informasi.
2. Manfaat praktis
Riset yang dilakukan bermanfaat untuk konsumsi praktisi komunikasi. Biasanya riset ini sejak awal bermaksud memberikan rekomendasi bagi praktisi komunikasi, baik dibidang jurnalistik, public relations, advertising, dan sebagainya. Misal riset “tracking media” menghasilkan manfaat berupa rekomendasi kepada pengelola media tentang rubrik apa yang harus dipertahankan dan dihapuskan. Riset perilaku konsumen dapat memberikan rekomendasi kepada praktisi komunikasi pemasaran dalam menyiapkan strategi kumunikasi pemasaran yang jitu, sehingga sesuai dengan karakteristik sasaran (konsumen)
3. Manfaat sosial
Riset mempunyai manfaat bagi upaya-upaya mengubah struktur sosial. Riset ini mencoba mengkritisi struktur sosial yang menurutnya kurang ideal karena cenderung tidak adil, didominasi oleh kelonpok tertentu dan mengasingkan kelompok marginal. Isi komunikasi dianggap cenderung memihak kepada kelompok tertentu yang berkuasa. Karena itu riset ini masuk dalam kategori aliran kritis. Karena itu riset yang masuk dalam kategori ini dikenal dengan aliran kritis. Contoh ditemukan pada riset media studies atau critical studies, seperti analisis framing dan analisis wacana.
4. Manfaat metodologis
Riset diharapkan bermanfaat menghasilkan atau mengembangkan sebuah metode riset baru. Biasanya riset ini ditujukan untuk mahasiswa program S3
[1] Sanapiah Faisal, Format-Format Penelitian Sosial (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005), hal. 1
[2] Ibid.
[3] W. Gulo, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Grasindo, 2002), hal. 10
[4] Fred N. Kerlinger, Asas-Asas Penelitian Behavioral, (Yogyakarta: Gajahmada University Press, 2000), hal. 7
[5] Moh. Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1985), hal.
[6] Sanapiah Faisal, Format-Format Penelitian Sosial ……….., hal. 11
[7] Stewart L Tubbs & Sylvia Moss, Human Communication, editor Dedy Mulyana, (Bandung: Rremaja Rosdakarya, 2000)
[8] John Marston memperkenalkan formula RACE dalam kegiatan PR yaitu singkatan dari research, action, communication dan evaluation. Lihat Rahmat Kriyantono, Teknik Praktis Riset Komunikasi, cet I (Jakarta: Kencana, 2006), hal. 7
trims bunda..........
BalasHapus